Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 September 2017

[UKTurkiTrip] Harga Murah Qatar, Fasilitas Full

Tiket pesawat #Qatar yang dibooking berjamaah seharga kurang lebih senilai Rp 3,9jt/orang dengan rute KL-Doha-Heathrow dan Turki-Doha-KL itu membuat saya terkesan. Selama ini kan naik low carrier cost terus yah, jadi lumayan "kaget" senang ketika dapat harga murah tapi fasilitasnya full. Kursi ga sempit-sempit amat juga, dapat makan 2 kali (dan saya suka salad jamurnya, hehehe), full entertaint (film,music lumayan update dan lengkap) dan yg paling disuka adalah, murotal yang tersedia di pilihan entertaint.
Sejak penerbangan dari KL, kami dibagikan travel kit yang isinya: penutup mata, tutup kuping, kaos kaki, sikat gigi dan pasta gigi yang dibagi dalam pouch cantik. (Cantik karena gratisan)
Oh iya, baru kali ini saya tidak bosen menonton safety flight. Iya, karena arahan safety flight dikemas dalam video dan menampilkan pemain sepak bola, Barcelona.

#qatar #ukturkitrip #uk #doha #wheniwas #namanyasekalinaekpesawatgaLCC #jadinyasegaladifotodanvideoin #dailyinna
entertaintnya ada murotal xoxo


main course

night kit lengkap

Minggu, 01 Januari 2017

Hot Food Lulu Hypermart, Cakung

Hypermart ini nyatanya tidak jauh beda dengan mart sejenisnya. Keliatannya. Kesan pertama saya boleh salah karena toh tadi ngarepnya akan disambut musik ala-ala timur tengah. Tapi begitu memasuki pintu masuk lantai GF, mata saya langsung tertuju stall Rostery yang berisi semua jenis kacang-kacangan, bumbu-bumbu bubuk khas timteng kopi, coklat dan berbagai jenis kurma. Saya cuma belanja kurma Tunisia, cakep bentuknya. Jenis kacang-kacangan dan biji-bijian menurut saya lebih murah belanja online #eh. 


Hot Food adalah stall yang paling menyita perhatian. Surga kuliner masakan dan bakery timur tengah. Saat saya datang memang jam makan siang, stall makanan saya liat penuh, mata saya menyapu tray makanan yang berjejer. Kentang balado, nasi goreng, balado terong, bakso saya lewatkan. Vegetable Pulao rice dan Kerala Style Mutton roast, shawarma ayam, roti baguette keju &daging akhirnya jadi pilihan makan siang saya (astaga banyak juga yah) ada pilihan berbagai jenis Infused water dan jus segar di sini. Infused water jeruk dibandrol 5k, jus alpukat 8k.


 Dan juaranya tentunya nasi dan mutton tea. Aih, finger linking good. Saya sampai jilat jari karena bumbu mutton dan nasinya yang berasa banget. Ngarab banget, dan cendrung pedas.

Begitu saya balik lagi ke stall makanan, ehem, itu mutton kok kayaknya ga ada yang nyentuh yah. Hahahaha. 

Owh iya, di stall ini semua jenis kue dan makanan dihargai per ons dan dikemas pakai kotak plastik. Selanjutnya dibayar di kasir di daerah meja makan. Owh iya, beruntung sebelum pulang, nasi briyani yang sold out tersedia kembali dengan dua pilihan protein: kambing dan ayam. Rasanya? Rekomendiiidddd!
 Dan berbagai jenis kue khas arab ini menurut saya overpriced. Not so happy dengan rasanyapun.

Yang senang buah-buahan, Lulu mungkin bs jadi pilihan, ga terlalu lengkap cuma untuk jenis buah dan sayur standar harga cukup bersaing, bisa cek toko sebelah, murce. Dan ehem, baru kali ini saya ketemu supermarket jualan jengkol 😂

Overall, saya terkesan dengan Hot Food dan rostery stallnya aja. Karena sisa jualan lainnya ga beda dengan hypermart lainnya. Padahal saya tadi berharapnya nemu makanan kemasan dari sana, seperti mammoul. #kangenmamoul 😀


jika berniat ke sana malam hari, koridor pejalan kaki ini wajib jadi spot foto, kebayang cakep lampunya pas nyala malam hari. 

Jika ada yang mengajak kembali ke Lulu Hypermart Cakung, Jakarta, saya rela. Walau harus menempuh 1,5 jam perjalanan via bus TJ dari Harmoni. Semua karena Hot Foodnya. 😂

Note:
Rute bus transjakarta dari Harmoni:
Pulogadung-Asmi ( transit) sambung bus tj Asmi-Harapan Indah.  Turun di halte Lulu Hypermart. Halte tanpa shellter halte bus tj.


Jumat, 23 Desember 2016

Lanyard

Sejak 17 Agustus 2016, pengguna bus transjakarta khususnya koridor satu, diikuti oleh koridor lainnya, wajib "tap out" e-money untuk keluar dari halte. Awalnya banyak yang mengeluh karena terjadi tumpukan antrian apalagi pintu keluar kadang satu pintu dengan pintu masuk.
Makin lama, para pengguna bus massa ini makin ambil bagian agar antrian tidak terlalu panjang, mempersiapkan kartu ketika akan turun bus. Beberapa lainnya seperti saya yang biasanya stand by kartu di satu tas yang bisa diambil dengan dua kali gerakan akhirnya memakai gantungan kartu, (lanyard) seperti kebanyakan yg dipakai para roker (rombongan kereta). Alhamdulillah ini sangat membantu kelancaran proses keluar halte. 


Cara lain yg dilakukan biasanya "nappingin" orang lain yg tidak/lupa bawa kartu, lumayan mempercepat 2-5 detik.

Perempuan adalah penumpang yg paling banyak pakai lanyard, sementara bapak-bapak masih aja rogoh saku, cari dompet persis di depan "gate" tap out. Errrr...

Say No To receh atau mau Disumbangkan Kemana

Sudah hampir setahun ini saya memakai kartu debit untuk transaksi keuangan terutama ketika belanja di supermarket (masih ada yg pakai istilah ini ga sih?). Karenanya saya memang jarang mengantongi uang tunai dalam jumlah lebih dari 50rb kalau memang tidak ada keperluan, kartu debit inilah yang selalu saya bawa.

Selain alasan kepraktisan juga karena males nimbunin koin kembalian dan juga pertanyaaan mbak kasir "mau disumbangin mbak, kembaliannya?".




Dulu koin kembalian tersebut diselotif ponakan per satuan dan dijadiin ongkos angkutan umum. Sekarang hal ini praktis tidak bisa dilakukan karena bayar bus tj, angkutan umum utama saya, juga pakai e-money. Sebenarnya pecahan 100,200 perak tersebut masih bisa "dikembalikan" ke supermarketnya, cuma kan ke supermaket kadang juga kayak tahu, dadakan. Jadilah numpuk deh tuh koin. Jadi masalah koin kembalian dan pertanyaan "mau disumbangkan?" diatas menurut saya tersolusikan oleh memakai kartu debit.😀

Kami Alumni 212

Teman,
Aksi 411 dan 212 menunjukkan wajah islam, profil muslim sejatinya. Nyatanya kita memang bisa untuk antri sangat tertib bahkan dalam keadaan panas, hujan sekalipun. Kita bisa sangat bersabar untuk berlapang-lapang dalam majelis, berbagi halaman kita dengan orang yang tidak kita kenal.
Teman,
Nyatanya, kita sangat ringan tangan untuk tidak membuang sampah sembarang, atau bahkan dengan kerelaan hati tanpa bayaran sekalipun memungut sampah di sekitar kita.
Nyatanya, kita bisa dengan sangat manis mematuhi aturan, tidak menginjak/merusak tanaman bahkan dalam keadaan terdesak sekalipun kita enggan untuk menapakan kaki kita barang sebentar diatas rumput hijau taman.
Teman,
Nyatanya, kita adalah ummat sangat pemurah dan gemar memberi. Makanan sangat berlimpah, tanpa pandang bulu, kita sangat dermawan memberikan makanan, minuman kepada orang sebelah kita. Cerita tukang donat yang karena kemurahan hatinya membagikan donat secara justru berbalas kontan saat itu juga, berkalilipat. Cerita ibu-ibu negeri yang tanpa iming-iming apapun selain keridhaannya merelakan waktu sibuk di dapur, membagikan makanan di jalanan kepada siapapun yang lewat. Cerita tentang kedermawan ini mungkin butuh satu buku untuk dituliskan. Tidak ada yang menafikkan bagaimana logistik sangat melimpah ruah saat konvensi akbar tersebut.
Teman,
Nyatanya kita bisa sangat sayang dengan orang yang baru kita temui, sekalipun karena kecintaan yang sama. Cerita kaum Anshar dan Muhajirin terpampang nyata di depan kita. Penduduk Jakarta menyambut takzim penuh sayang saudara-saudara seiman yang datang dari Papua, Aceh, Padang, Ciamis, dari manapun. Apa mereka pernah kenal sebelumnya? Sebagian kecil mungkin, sebagian besar itu adalah perjumpaan pertama mereka.
Teman,
nyatanya kita adalah ummat yang kuat. Cerita tentang mujahid Ciamis berjalan ratusan kilo ke Jakarta akan terpatri jelas dalam ingatan kita dalam beberapa masa ke depan, mungkin ini yang akan dengan bangga kita ceritakan pada anak cucu kita nanti.
Teman,
Nyatanya kita adalah ummat yang bisa merapatkan barisan, melupakan perbedaan dalam islam sendiri. Puluhan bendera berbagai warna bisa berkibar di langit yang sama tanpa berebut perhatian
Teman,
Nyatanya kita adalah ummat yang bisa menahan diri, tidak gampang terprovokasi. Selama berjam-berjam kita bisa duduk tenang, awas dan mawas diri, saling menjaga.
Teman,
Nyatanya, ulama-ulama kita adalah negosiator dan orator ulung. No doubt about it.
Teman,
Cerita diatas tak akan kita biarkan menguap, hilang tanpa bekas, tak meninggalkan jejak. Karena;
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita saat hadir dan yang menjadi saksi melalui media manapun di 411 dan 212. kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang taat, tertib, sabar, pemurah, penyayang, pantang menyerah.
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang menghormati bukan hanya sesama muslim tapi juga menghargai yang berbeda agama dengan kita.
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang merasa diawasi terus oleh kameraNya bukan kamera orang lain.
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang suka bertabayyun atas berita apapun yang kita terima. Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang bertanggung jawab atas semua jempol, karena hisabNya tidak akan luput.
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang tidak hanya marah ketika Al Quran dinista, kita hari ini esok dan seterusnya adalah kita yang cinta Al Qur'an, rajin berinteraksi dengannya.
Kita hari ini, esok,lusa dan seterusnya adalah yang tidak akan membiarkan satu hari terlewatkan tanpa berinteraksi dengan Al Quran. Ambil, buka kembali Al Quran yang mungkin satu tahun lebih tidak sentuh, berdebu dipojok paling atas rak buku. Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang mempelajari makna, tafsir dan amalkan isi Alquran.
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang akan menjaga shalat dalam keadaan apapun.
Teman,
Kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang senantiasa menjaga ukhuwah. Karena kita adalah gengaman tangan dan bangunan yang kuat jika saling bersatu.
Teman,
kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang tidak mudah terlena, jumawa, ujub karena kemeriahan 411 dan 212. kita hari ini, esok, lusa dan seterusnya adalah kita yang menjaga agar semangat 411 dan 212 tetap terjaga dalam kerendahan hati sehingga bisa dengan lantang berkata " Saya bangga sebagai Islam".
#kamialumni212 #212itukami #dailyinna

Rabu, 07 September 2016

Puncak Ibadah Haji, Arafah Hingga Mina



8 Dzulhijah 1436H, waktu sholat Zuhur kami dipersiapkan dalam rombongan bus secara acak menuju Padang Arafah, tempat salah satu puncak ibadah haji, wukuf, diadakan. Saya melengkapi diri dengan tas tentengan dan ransel buntut kesayangan. Pakaian insya Allah mencukupi untuk 5 hari kedepan. Kami akan menghabiskan waktu di tenda Padang Arafah hingga malam esok harinya, lanjut mabid di Muzdalifah hingga setelah subuh, dan 3 hari di Mina untuk melontar jumroh. Puncak haji dilakukan secara berkelompok dan selalu bersama, untuk kenyamanan maka atribut KBIH harus selalu dipakai.

Muzdalifah

Berbeda dengan di Mekkah dan Madinah. Akomodasi di Padang Arafah adalah tenda semi permanen. Tenda dibagi berdasarkan kelompok penerbangan. Satu tenda cukup untuk direbahi bahu ketemu bahu seluas 55 orang jemaah. Hijab wilayah antara jemaah laki dan perempuan adalah tas bawaan kami. Kamar mandi semi permanen disediaan cukup memadai.   Diperlukan ekstra sabar dan kelapangan hati ketika menggunakan fasilitas mck. Karena dalam keadaaan ihram, maka isu mck jadi momok  ketika akan buang air, sebagian jemaah memilih untuk tidak mandi demi menjaga ihram. saya pribadi memilih untuk guyur badan tanpa sabun karena sudah ga tahan dengan bau sedep sedep yang melekat di badan.   Malam jam 12-an kami menuju Muzdalifah.

suasana di tenda Padang Arafah

Kami sampai di Muzdalifah, 10 Dzulhijah sekitar pukul 1 pagi.   Tempat ini adalah persinggahan jemaah untuk mengumpulkan kerikil/batu melontar jumroh dan diharuskan mabid (menginap) walau cuma beberapa jam. Padang pasir di sini secara harfiah memang lautan pasir yang mampu menampung ribuan jemaah tanpa ada bangunan permanen apapun untuk berteduh. Kami mabid beralaskan tikar, karton, plastik sampah hitam yang kami bawa dari hotel dan beratapkan langit. Penerangan berasal dari lampu tiang dan bangunan toilet yang ada.  kondisi diatas tak menghalangi kami untuk tidur lelap beberapa jam. Menjelang subuh kami sudah bersiap kembali dalam antrian bus menuju Mina.

Tidak jauh berbeda dengan tenda di Arafah, tenda di Mina juga adalah tenda semi permanen dengan kondisi lebih bagus, hijab/ pembatas lebih jelas , mck lebih banyak dan memadai, walau masih dengan luas yang kalau tiduran tempel bahu dan bahu antar jamaah.layaknya lingkungan hunian  diluar pagar tenda (tenda dijaga oleh petugas/ jd tidak bisa masuk dan keluar ketika bukan jadwal melontar) terdapat pedagang, baik kaki 5 dan makanan.
 
Kami berada di Mina selama 3 hari untuk melontar jumroh. Inilah tantangan ibadah fisik dan mental lainnya. Dengan penginapan yang berjarak 700m dari pintu/terowong menuju tempat melontar jumroh/jemarat maka jarak tempuh jalan kaki kurang lebih 8km (pulang pergi). Track tempuh menuju jamarat adalah jalanan beton permanen bagus dan dibuat dua arah dan mampu menampung ribuan manusia disaat bersamaan. Jemaah dibagi per negara untuk menentukan waktu melontar. Jemaah Asia Tenggara biasanya mendapat jatah melontar di waktu bukan pilihan atau waktu utama, menghindari pertemuan dengan jemaah yang berbadan lebih besar. Tapi dalam kenyataan beberapa jemaah tetap mengikuti waktu afdhol. Sempet menciut nyali di hari melontar jumrah aqobah. tak dinyana kami berada di jam yang sama disaat musibah Mina 2015 terjadi. Hari kedua dan ketiga mental kami terpengaruh dengan pemberitaan yang justru kami dapat dari tanah air.

ah, sungguh ibadah ini ibadah fisik dan mental.


Selasa, 16 Agustus 2016

Hanya Catatan Kecil dari Perjalanan Haji 2015

Begitu mendapat undangan istimewa ini, saya memantapkan hati bahwa saya akan menerima jamuan yang layak selama menjadi tamu, layaknya perlakukan kita ketika menerima tamu, semua pasti kita persiapkan agar tamu feels like home. Apalagi ini bukan sembarangan undangan, ini undangan istimewa, super VVVVIP dari yang Maha Kaya, Maha Segalanya, yakin sangat bahwa saya akan tercukupi segala kebutuhan selama di sana.

Berminggu-minggu saya mencoba memantaskan diri, mencari tahu agar bisa  menjadi tamu yang manner, behave, tidak akan mengecewakan "tuan rumah". Googling sana, baca sini agar saya tahu sedikit banyak tentang Penjamu saya, apa yang harus saya lakukan agar tuan rumah juga senang, berkenan dan ridha dengan kehadiran saya. 

Alhamdulillah, 41 hari perjalanan di Mekkah, Arafah,Muzdalifah, Mina dan Madinah yang saya rasa hanya suka. Di hari terakhir menjelang kepulangan, kami bercerita tentang nikmat yang kami rasakan selama di Tanah Haram, kok malah ga ada inget susahnya. Kami bisa tidur lelap diatas pasir yang beralaskan tikar tanpa penerangan yang cukup. Kami bisa makan lahap dengan lauk tetep ayam ikan daging bergantian tiap harinya. Kami bisa berjalan penuh takzim dibawah panas yang katanya diatas 40 celcius. Kaki kami tetap riang melangkah menapaki  kiloan meter menuju Jamarat dan kiloan meter lainnya menuju tempat ibadah dan ziarah lainnya.

Hei, ini konvensi internasional terbesar yang pernah saya ikuti. Jika tidak salah membaca salah satu artikel brosur di Mekkah,  peserta haji tahun ini dari 114 negara,cmiiw, saya takjub mengamati sebagian pola laku yang mewakili kurang lebih 2juta saudara seiman selama di sana. Bagaimana kami berinteraksi? Dengan senyuman!. Serasa takut apapun pada saudara kita yang berbadan besar karena cerita turun temurun warisan dari para penapak tilas dulunya, percayalah...mereka bisa luluh dengan senyuman. Setidaknya itu yang saya rasakan. Bahkan untuk satu negara yang tidak bisa saya lumpuhkan dengan senyuman ini, at the end saya berhasil saya ajak bicara, yay! Dan masya Allah baiknya. Mungkin juga faktor bahasa jadi penunjang kami bisa berkomunikasi.  

Saya iri dengan kemurahan hati para penduduk dan selama di sana. Tidak bisa dihitung dengan jari kejutan manis kami terima sejak kedatangan. Makanan, minuman, berlimpah. Sabil, begitu kami menamai dermawan-dermawan yang ujug-ujug memberikan kurma, minuman, roti atau makananan lainnya sepenjang perjalanan menuju mesjid atau hotel. Saya menyaksikan bagaimana satu truk roti dibagikan ke jemaah haji oleh dermawan di sana, satu pick up air botolan/jus berhari-hari menanti kami dengan setia di salah satu sudut di Jarwal Taisir, kawasan hotel terpadat oleh jemaah haji. "Halal...halal...", demikian mereka meneriaki agar kami mampir dan mengambil sedekahan mereka. 

Saya iri dengan pekerja-perkerja di Masjidil Haram dan Nabawi. Saya iri dengan ketakziman dan ketekunan mereka bekerja. Saya iri dengan kesungguhan mereka menjaga fasilitas-fasiltas mesjid tetep nyaman dipakai; menyusun, membersihkan rak-rak alquran, lampu, mengepel lantai (bagian favorit menyaksikan yang membersikan lantai selapangan bola kelar dalam berapa menit aja). Saya iri dengan kesabaran mereka melayani kami jemaah dengan beragam tingkah laku. Saya iri yang dengan pekerjaannya bisa setiap saat mengunjungi tempat-tempat impian ummat Islam. 


Saya juga iri dengan kedermawanan jemaah haji lainnya. Teringat dengan nenek tua yang ingin berbagi 2 butir kurmanya, saat saya mengganti kacang dengan roti untuk beliau makan agar mudah dikunyah. Makanan saya mungkin agak lebih makanya saya juga tidak sungkan untuk berbagi, tapi saya yakin, kurmanya memang tinggal 2 butir, dan beliau memaksa saya untuk mengambilnya. Teringat sabar beliau ketika ada jemaah wanita lain yang badannya sangat besar "ngedeprok" manis di depan beliau yang sedang sholat. Kontan jamaah lain memarahi, tapi tidak dengan sang nenek, beliau cuma menepuki pundak sang wanita sambil tersenyum entahlah bicara apa sampai kemudian sang wanita agak bergeser duduknya. Ah, kalo saya mungkin udah mendelikan mata ala2 peran antagonis sinetron.

Terakhir, saya haturkan kekaguman saya untuk pemerintah sana yang membuat 2 tempat suci ummat islam menjadi tempat yang makin nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Saya tidak punya alasan untuk menyalahkan mereka atas apapun yang terjadi diluar kehendak manusia. Saya menyaksikan kesungguhan pemerintah Saudia membuat tempat ini menjadi tempat semua ummat. Jika debu dalam rak alquran saja susah untuk kamu dapatkan, apakah mungkin mereka menelantarkan hal maha penting lainnya? 

Allah Maha Baik, saya merasakan nikmat luar biasa, tak tergantikan, tak terdefinisikan dengan akal...yang semoga saya makin bersyukur karenanya. 
Ini hanya segelintir kejadian suka diantara ribuan nikmat suka cita lainnya yang tak mampu saya hitung dan goreskan. Banyak pengalaman  yang saya catat rapi dalam benak. Puzzle-puzzle yang terjadi dalam rekaman mata  dan memori saya yakin itu adalah pengingat, cermin agar bisa mengambil hikmah.